Keluarga korban syok saat melihat kondisi jenazah. Lebam di sejumlah bagian tubuh memunculkan dugaan adanya kekerasan sebelum korban menghembuskan napas terakhir. Namun seperti biasa, publik kembali disuguhi kalimat normatif: “masih dalam pemeriksaan.”
Pertanyaannya, sampai kapan jawaban klise itu dipakai untuk meredam kecurigaan masyarakat?
Penjara seharusnya menjadi tempat pembinaan, bukan tempat seseorang pulang sebagai mayat misterius. Negara memang berhak mencabut kebebasan seseorang, tetapi tidak pernah diberi hak untuk membiarkan nyawa hilang secara gelap di dalam tahanan.
Yang membuat publik semakin geram, berbagai slogan tentang “pembinaan humanis” selama ini terus digaungkan. Namun semua terdengar kosong ketika seorang warga binaan justru keluar dari lapas dalam kondisi mengenaskan.
Jika benar ada kekerasan di dalam lapas, maka ini bukan sekadar pelanggaran disiplin. Ini tamparan keras bagi wajah penegakan hukum. Dan bila kasus ini kembali tenggelam tanpa kejelasan, masyarakat akan semakin yakin bahwa di balik tembok penjara, masih ada budaya bungkam yang lebih kuat daripada keadilan.
Kini publik menunggu keberanian aparat untuk membuka fakta sebenar-benarnya — bukan sekadar merapikan narasi agar amarah masyarakat perlahan reda.
( Red )

Social Plugin